Buku ini merupakan bentuk refleksi tentang hubungan manusia dengan lingkungan yang saat ini berada pada situasi tidak harmonis. Seperti kita ketahui bahwa peristiwa alam ini ada yang membahayakan (gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan) dan tidak membahayakan manusia (pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan serta terbentuknya embun dan pelangi). Namun, banjir tidak hanya terjadi karena faktor alam, tetapi karena ulah manusia yang lebih mementingkan kepentingan sesaat ketimbang kelestarian alam.
Pembangunan gedung dan penebangan pohon yang terkesan tanpa memperhatikan ruang-ruang hijau. Kuantitas dan kualitas ruang publik dan ruang terbuka hijau (RTH) perkotaan makin menurun dari tahun ke tahun. Begitu pula peristiwa alam berupa kebakaran hutan, ada yang terjadi karena gesekan dahan pohon yang mengering pada musim kemarau. Akan tetapi, kebakaran hutan sering terjadi karena pembakaran untuk lahan pertanian dan perkebunan.
Alih fungsi lahan ini berpengaruh pada hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Lingkungan pun mengalami kerusakan yang bakal berujung pada kerusakan kehidupan manusia. Kita perlu menyadari bahwa merusak lingkungan berarti manusia membunuh dirinya sendiri. Kerusakan lingkungan yang telanjur terjadi di Tanah Air ini merupakan tanggung jawab bersama. Jangan sampai terban bumi tempat berpijak, hilang tempat menggantungkan harapan. Mau tidak mau kita harus menjaga alam beserta lingkungannya karena tidak lepas dengan tempat kehidupan kita di bumi ini.




