Pemilihan umum Kota Semarang 2024 dijadwalkan akan berlangsung pada 27 November 2024 untuk memilih Walikota dan Wakil Walikota Semarang periode 2024-2029. Sejumlah nama telah muncul sebagai kandidat potensial yang siap ikut serta dalam kontestasi politik di Kota lumpia tersebut.
Widi Nugroho, selaku Direktur Indoriset Strategis menyebut saat ini ada tujuh nama yang potensial menjadi kandidat Walikota Semarang.
“Opsi itu Bu Ita (Incumbent), Pak Iswar (Sekda), Pak Yoyok Sukawi, Pak Arnas, Pak Pilus (Kadar Lusman, SE, MM), Pak Joko Santoso, dan Bu Tiya (Istri Pak Hendi)”. Kata Widi saat Podcast Bersama Tirbun Jateng , (Rabu 20/3/024).
Pilkada Kota Semarang kali ini diprediksi akan berlangsung cukup ramai. Karena banyaknya calon yang sudah muncul. Widi menyampaikan “Saat ini opsi yang tersedia di kota semarang menjadi lebih variatif. Karena Sebelumnya, figur Mas Hendi sangat dominan didukung dengan program yang sudah nyaman terlaksana dan dirasakan oleh masyarakat. Sekarang lebih banyak opsi yang muncul di Kota Semarang”.
Dalam Pilkada Kota Semarang tahun ini, juga terdapat fenomena unik yang bisa terjadi. Yaitu peluang pilkada tanpa petahana. Mengingat Ibu Ita, selaku Walikota saat ini telah menyatakan diri tidak akan maju dalam pilkada semarang kali ini.
“Secara verbal, Bu Ita sudah mengatakan tidak maju pemilihan walikota semarang” tutur Widi. Namun ketua lembaga riset itu melanjutkan, bahwa “kuat sekali arus di bawah yang menginginkan Bu Ita kembali maju”.
Hal ini tentu menarik untuk diamati. Karena selain pilihan pribadi, arus dukungan dan keputusan partai yang menaungi Bu Ita selama ini juga memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan apakah akan kembali memberi mandat atau tidak.
Widi mengungkapkan, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan Kepemimpinan Kota Semarang menjadi menarik untuk diperebutkan. Pertama, Semarang adalah Kota Sorotan Utama karena merupakan kota basis PDIP dengan jumlah penduduk terbesar di Provinsi Jawa Tengah.
Kedua, faktor fiskal “Kota Semarang memiliki fiskal yang besar sehingga wajar jika banyak calon yang berminat menjadi Walikota Semarang. (Senilai) Rp5,2 triliun”. Lanjut Widi. “apabila hendak menggaet program dari pusat relatif lebih mudah, sebagai contoh penanganan banjir. Semarang lebih mudah mendapatkan perhatian dari pusat dibandingkan Demak. Padahal, kondisi banjir di Demak jauh lebih parah”.





